Jumat, 08 April 2011

Studi Kelayakan Bisnis (Kriteria Keputusan)


BAB 10
KRITERIA KEPUTUSAN
A.    Pengantar

Di dalam penilaian keputusan investasi atau studi kelayakan bisnis menggunakan kriteria. Dimulai dari kriteria yang “sempit” sampai dengan kriteria yang lebih “luas”. Kriteria yang sempit hanya menekan pada aspek profitabilitas dipandang dari sudut bisnis yang sering disebut profitabilitas komersial. Sedangkan dari sudut yang lebih luas adalah dengan memerhatikan manfaat proyek bagi perekonomian nasional dan segi social.
Dalam studi kelayakan bisnis yang sebagian besar membicarakan segi bisnis maka profitabilitas komersial lebih diperhatikan. Investor memiliki prioritas penilaian suatu proyek yaitu apakah suatu proyek memberikan tingkat keuntungan yang dianggap layak.
Sekalipun studi kelayakan bisnis lebih menitikberatkan pada kriteria profitabilitas komersial daripada profitabilitas ekonomi nasional, namun tidak ada salahnya mengetahui criteria-kriteria penilaian lain untuk menilai sumbangan proyek pada perekonomian nasional. Hal ini karena biasanya pemerintah akan lebih memerhatikan dalam arti memberikan fasilitas dan dukungan pada proyek-proyek yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Pada dasarnya terdapat dua pendekatan utama dalam menilai sumbangan proyek kepada perekonomian nasional, yaitu sebagai berikut:
a.       Menitikberatkan pada satu atau lebih karakteristik penting, misalnya penerimaan devisa, penggunaan tenaga kerja sebanyak-banyaknya dan penggunaan modal sekecil-kecilnya.
b.      Mengkonsentrasikan pada hasil keseluruhan yang diharapkan dalam usaha untuk menemukan rata-rata, nilai bersih proyek yaitu dengan mempertimbangkan semua faktor yang ada di dalamnya.
Kriteria penilaian yang akan dibahas antara lain: a) kriteria intensitas faktor, b) kriteria luas dan kompleksitas proyek, c) kriteria pendapatan valuta asing/devisa, d) kriteria profitabilitas komersial, e) kriteria profitabilitas ekonomi social, dan f) kriteria pemilihan proyek.
B.     Kriteria Intensitas Faktor
Berdasarkan kriteria ini, pemerintahan suatu negara sebaiknya memberikan prioritas pembangunan proyek-proyek yang memanfaatkan faktor surplus, yaitu misalnya tenaga kerja daripada faktor yang jarang misalnya modal (kapital). Namun, perlu diperhatikan bahwa kelebihan tenaga kerja dalam kenyataannya bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan karena masih banyak faktor-faktor lain yang juga memengaruhinya.
Kriteria ini memiliki kelemahan, yaitu harus diikuti dengan asumsi “faktor-faktor lain dianggap tetap tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dijadikan kriteria”. Padahal dalam kenyataan, keadaan tersebut sulit ditemui. Jadi, penggunaan faktor surplus tenaga kerja sulit dijadikan kriteria satu-satunya tanpa mempertimbangkan akibatnya, terutama akibat negatifnya terhadap faktor-faktor lain, misalnya produktivitas yang rendah, yang justru kemungkinan besar akan mengurangi ‘nilai’ proyek itu sendiri.
C.    Kriteria Luas dan Kompleksitas Proyek
Kriteria lain yang bisa digunakan untuk membuat keputusan investasi adalah luas dan tingkat kompleksitas elemen-elemen yang terdapat dalam proyek. Semakin luas suatu proyek semakin kompleks permasalahan yang dihadapinya. Luas dan kompleksitas tersebut meliputi aspek keuangan, produksi dan keuangan yang diperoleh dari aspek-aspek lain.
Secara umum, pada tahap awal pembangunan suatu negara, jenis-jenis usaha kecil yang mempergunakan teknik produksi sederhana dan memberikan return yang cepat sebaiknya diberi dukungan lebih kompleks yang dilaksanakan beberapa waktu kemudian setelah masyarakat siap untuk melaksanakannya. Contoh : sasaran pembangunan bidang ekonomi setiap PELITA Republik Indonesia. Pada pelita pertama sasaran pembangunan ekonomi kita diprioritaskan pada sektor pertanian dan industri pendukung pertanian. Pelita kedua, selain masih meneruskan pembangunan petani dan industri pendukung pertanian, sasaran pembangunan kita adalah industri pengolah bahan mentah menjadi bahan baku, serta industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku. Pelita ketiga memiliki sasaran pembangunan industri pendukung pertanian dan pertanian menuju swasembada pangan, industri pengola bahan mentah menjadi bahan baku, serta industri pengolah bahan baku menjadi bahan jadi. Pada pelita keempat sasaran pembangunan, selain masih meneruskan sasaran-sasaran sebelumnya juga mulai melaksanakan industri penghasil mesin industri. Sedangkan pada pelita kelima, mulai diprioritaskan pada industri penghasil mesin-mesin industri untuk segera menuju tinggal landas.
Dari contoh diatas, dapat kita lihat suatu iliustrasi mengenai tahap-tahap pelaksanaan pembangunan menuju industrialisasi suatu negara yang paling sederhana dengan kemampuan masyarakat negara yang bersangkutan menuju industri-industri yang lebih kompleks.
D.    Kriteria Pendapatan Valuta Asing/Devisa
Salah satu pertimbangan keputusan dilaksanakan suatu proyek adalah seberapa besar penghematan devisa yang diperoleh bagi produk-produk yang diproduksi  proyek jika produk tersebut adalah subtitusi impor, atau seberapa pendapatan devisa yang diperkirakan akan didapat dari eksport produk yang akan dihasilkan proyek.
Suatu negara kadang mengalami pengurangan cadangan devisa, baik disebabkan oleh pengurangan pendapatan devisa ataupun oleh meningkatnya pengeluaran devisa. Hal tersebut disebabkan  misalnya kegagalan produksi pertanian sehingga pemerintah perlu membeli lebih banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri agar tercukupi.
Pertimbangan yang menyertai perlunya digunakan kriteria pendapatan devisa adalah sebagai berikut:
Ø  Krisi cadangan devisa akan emnagncam kelangsungan jangka panjang suatu negara, maka proyek-proyek yang secara komersial tidak layakpun bisa diterima asal menghasilkan devisa yang relatif tinggi atau proyek tersebut paling tidak membantu megatasi kesuliatn devisa.
Ø  Jika proyek-proyek yang ada selama ini dinilai dalam jangka panjang tidak mampu menhasilkan devisa yang cukup bagi negara yang bersangkutan, membanganu proyek-proyek yang memberikan pendapatan devisa atau yang menghemat devisa merupakan proyek-proyek yang harus diprioritasskan.
Kelemahan kriteria ini sebagaimana kriteria-kriteria sebelumnya adalah tidak melihat atau mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan yang berkaitan tidak hanya satu atau dua faktor, melainkan berbagai faktor yang saling memperngaruhi.
E.     Kriteria Profitabilitas Komersial
Berbeda dengan kriteria-kriteria sebelumnya yang hanya mempertimbangkan satu aspek dalam proyek maka kriteria profitabilitas komersial yang mempertimbangkan berbagai faktor, lebih diterima secara luas sebagai alat untuk menilai proyek secara keseluruhan. Kriteria tersebut digunakan oleh investor swasta maupun pemerintah atau lembaga-lembaga keuangan, baik swasta maupun pemrintah. Perkiraan profitabilitas adalah laba bersih yang diharapkan sesudah pajak.
Penggunaan kriteria profitabilitas komersial untuk menilai proyek-proyek industri` sangat disarankan karena kriteria ini cenderung bersifat obyektif dan menggunakan aspek penting yaitu, biaya. Dengan mendapatkan informasi yang akurat mengenai permintaan atau pasar, harga, produksi dan biaya, profitabilitas komersial tidak sulit dihitung dan cara perhitungannya telah dikenal melalui prosedur akuntansi.
Profitabilitas komersial ini bisa juga dipergunakan untuk membandingkan investasi satu dengan yang lain bagi para investor swasta. Bagi pemerintah yang akan menangani proyek secara langsung dalam arti menginvestasikan dananya kedalam suatu bisnis negara, profitabilitas komersial bisa digunakan untuk perkiraan prestasi keuangan bisnis negara yang akan dilaksanakan.
Profitabilitas komersial merupakan sebuah prakiraan yang tidak lepas dari penyimpangan.  Terdapat dua bagian besar prakiraan di dalam profitabilitas komersial ini, yaitu estimasi biaya produksi dan estimasi penerimaan penjualan. Jika terdapat kesalahan pada salah satu bagian tersebut, akan mengakibatkan kesalahan pada poerhitungan rate of return. Sebaliknya, jika estimasi profitabilitas komersial dengan teliti dibuat dan mendasarkan pada konsep koservatif, profitabilitas komersial tersebut bisa digunakan sebagai dasar penilain prospek proyek, terutama dalam kaitannya dengan bisnis komersial. Namun, dalam kebijaksanaan  perencanaan pembangunan dan/atau bagi proyek-proyek yang memerlukan bantuan pemerintah (dana atau lainnya) sebaiknya tidak menggunakan kriteria profitabilitas komersial sebagai pertimbangan satu-satunya dalam pengambilan keputusan, melainkan perlu dilengkapi pula dengan kriteria profitabilitas ekonomi nasional.
F.     Kriteria Profitabilitas Ekonomi Nasional
Profitabilitas ekonomi nasional adalah rata-rata rate of turn bersih suatu investasi  dalam hubungannya dengan perekonomian nasional. Perhitungan profitabilitas nasional selain memasukan biaya ekonomis dan laba yang sering tidak diperhitungkan juga memasukan biaya dan manfaat nonekonomis yang seharusnya dibutuhkan dalam suatu penilaian proyek agar diperoleh nilai proyek yang sebenarnya terhadap perekonomian nasional. Metode menilai profitabilitas ekonomi nasional adalah mendasarkan pada perhitungan profitabilitas komersial lalu disesuiakan dengan kondisi  yang memerlukan penyesuaian. Kelebihan profitabilitas nasional adalah memperlihatkan nilai yang sebenarnya suatu proyek  terhadap perekonomian nasional. Kelemahannya adalah jika terjadi kesalahan perhitungan.
G.    Kriteria Pemilihan Proyek
Kriteria pemilihan proyek mendasarkan pada kriteria profitabilitas komersial dan kriteria profitabilitas ekonomi nasional ditambah dengan pertimbangan kualitatif. Kelemahan kriteria ini adalah jika pertimbangan kualitatif diluar pertimbangan ekonomis mendominasi pengambilan keputusan. Kriteria pemilihan proyek ini dipergunakan untuk menentukan urutan proyek dari sekelompok usulan proyek. Caranya dengan membuat analisis perbandingan sekelompok usulan proyek, kemudian menentukan prioritasnya.

BAB 11
 ANALISIS LINGKUNGAN USAHA
A.    Pengantar
Studi lingkungan usaha penting dilakukan untuk menemukan apakah lingkungan dimana usaha itu akan berdiri nantinya tidak akan menimbulkan ancaman atau justru dapat memberikan peluang diluar dari usaha yang digunakan. Untuk menghindari kesalahan kemungkinan pengaruh negatif sebaiknya dari awal mendirikan usaha perlu membuat kajian lingkungan dan dimasukkan ke dalam unsur penilaian dari kelayakan usaha. Pelaku studi harus menemukan berbagai dampak yang akan terjadi mendirikan usaha baik itu dampak negatif maupun dampak positif.
B.     Dampak Sosial Usaha
            Dampak sosial yang sering muncul yaitu adanya ketidakpuasan dari masyarakat di sekitar lokasi, baik mengenai kompetensi yang mereka terima ataupun adanya kecemburuan kepada tenaga kerja asing yang datang, sementara mereka sudah lama tinggal disekitar lokasi justru tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja pada usaha tersebut. Oleh karena itu, dalam kelayakan penerimaan lokasi, sikap masyarakat ini perlu dipertimbangkan, apakah lebih banyak masyarakat yang mendukung atau yang tidak mendukung, barulah diputuskan pemilihan lokasi walaupun mungkin pertimbangan biaya operasi lebih tinggi dibandingkan lokasi lain.
C.   Dampak Ekonomi Usaha
Pendirian suatu usaha sekecil apa pun akan selalu menimbulkan dampak ekonomi. Dampak ekonomi itu, antara lain dapat dirinci sebagai berikut:
a.       Besarnya tenaga kerja yang terserap oleh usaha yang akan didirikan.
b.      Apakah ada usaha ikutan yang muncul akibat usaha ini. Jika ada, beberapa banyak, dalam bentuk apa, apakah dapat menunjang usaha atau dapat bermitra, dan lain-lain.
c.       Besarnya penerimaan pemerintahan dengan adanya usaha, baik yang berasal dari retribusi, pajak pertambahan nilai, dan pajak penghasilan.
d.      Besarnya kontribusi usaha terhadap penambahan pendapatan masyarakat disekitar lokasi usaha.
e.       Besarnya kerugian akibat dari peralihan fungsi lahan atau tanah kelokasi usaha.
D.   Dampak Fisik
 Studi mengenai dampak fisik ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kemungkinan bahwa akibat dari pendirian dan proses produksi dari usaha baru itu akan menimbulkan pencemaran udara, pencemaran air, sangat bising dan perusakan penglihatan, baik bagi karyawan usaha ataupun bagi masyarakat disekitar lokasi usaha. Pelaku studi bersama dengan ahli lingkungan harus dapat melakukan studi yang disebut dengan AMDAL, yaitu studi dampak lingkungan. Saat ini studi AMDAL sudah merupakan suatu keharusan yang telah diatur oleh peraturan pemerintah.
E.   Prediksi Kemungkinan Dampak Lingkungan
Tahapan ini adalah langkah lanjut dari studi lingkungan, yaitu pelaku studi kasus dapat merinci perkiraan dari adanya dampak lingkungan, baik yang bersifat social, ekonomi, maupun secara fisik dan harus disajikan dalam suatu daftar sehingga akan terlihat jelas dan dapat dianalisis dengan baik terutama yang berhubungan dengan masalah dana investasi dan besarnya nilai harapan dari investasi tersebut.
Pilihan dampak lingkungan yang dimasukkan kedalam daftar haruslah dikaji dengan benar dan sudah dirangking berdasarkan besarnya dampak yang muncul, dan setiap dampak yang ada dalam daftar tersebut harus dapat dikonversikan ke dalam nilai rupiah. Sehingga jelas jika akan dikaitkan dengan kebutuhan dana untuk mengatasinya yang selanjutnya akan diuji dan dianalisis kembali hingga dapat dinilai secara keseluruhan dampak dari lingkungan yang diperkirakan akan muncul akibat dari berdirinya usaha dilokasi itu, yang akan menentukannya apakah ide/gagasan pendirian usaha ini layak jika dinilai dari dampak lingkungan.
F.    Kalkulasi Biaya Dampak Lingkungan.
Ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan sebelum melakukan kalkulasi dampak lingkungan  yaitu:
1.      Melakukan verifikasi data hasil prediksi dampak lingkungan.
2.      Meneliti ulang kebenaran nilai-nilai yang ditetapkan pada saat prediksi dilakukan, mengingat kemungkinan adanya kesalahan dalam penafsiran nilai.
3.      Membuat daftar kalkulasi biaya dampak lingkungan dan menghitung seluruh biaya yang mungkin timbul.
4.      Menganalisis biaya dampak lingkungan dengan sasaran untuk melakukan perbandingan antara biaya penanganan dampak lingkungan dengan dana investasi dan benefit dari usaha tersebut.
Meneliti ulang kebenaran dari nilai-nilai. Tujuan dilakukannya kaji ulang adalah untuk mengetahui apakah nilai-nilai yang telah ditetapkan pada waktu prediksi itu tidak ada kesalahan dalam penafsiran atau ada perubahan karena adanya sesuatu ketentuan pemerintah yang pada waktu dilakukan studi belum diperhitungkan.
Membuat daftar kalkulasi. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan langsung dari seluruh dampak lingkungan dengan besarnya dana yang diperlikan untuk menanggulangi dampak tersebut.
Menganalisis biaya dampak lingkungan. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar dapat menguraikan secara detail pengaruh dari masing-masing dampak lingkungan terhadap pelaksanaan operasional usaha di masa yang akan datang. Selain itu, dengan menganalisis besarnya dana yang dikeluarkan untuk menanggulangi dampak lingkungan akan dapat diperkirakan apakah dana ini masih layak jika ditinjau seluruh dana investasi yang tersedia, berapa persentase dari seluruh dana investasinya, bagaimana cara melakukan depresiasi dana ini dalam operasional usaha.
Analisis dimulai dengan membandingkan antara besarnya biaya dampak lingkungan social yang negative dengan biaya yang positif dan membuat selisih antara nilai tambah dengan opportunity cost dari lingkungan ekonomi. Kemudian dibuat rekap dana keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar