Jumat, 01 April 2011

Studi Kelayakan Bisnis

KRITERIA LUAS DAN KOMPLEKSITAS PROYEK
Kriteria lain yang bisa digunakan untuk membuat keputusan investasi adalah luas dan tingkat kompleksitas elemen-elemen yang terdapat dalam proyek. Semakin luas suatu proyek semakin kompleks permasalahan yang dihadapinya. Luas dan kompleksitas tersebut meliputi aspek keuangan,produksi dan keuangan yang diperoleh dari aspek-aspek lain.
Secara umum, pada tahap awal pembangunan suatu negara, jenis-jenis usaha kecil yang mempergunakan teknik produksi sederhana dan memberikan return yang cepat sebaiknya diberi dukungan lebih kompleks yang dilaksanakan beberapa waktu kemudian setelah masyarakat siap untuk melaksanakannya. Contoh : sasaran pembangunan bidang ekonomi setiap PELITA Republik Indonesia. Pada pelita pertama sasaran pembangunan ekonomi kita diprioritaskan pada sektor pertanian dan industri pendukung pertanian. Pelita kedua, selain masih meneruskan pembangunan petani dan industri pendukung pertanian, sasaran pembangunan kita adalah industri pengolah bahan mentah menjadi bahan baku, serta industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku. Pelita ketiga memiliki sasaran pembangunan industri pendukung pertanian dan pertanian menuju swasembada [angan, industri pengola bahan mentah menjadi bahan baku, serta industri pengolah bahan baku menjadi bahan jadi. Pada pelita keempat sasaran pembangunan, selain masih meneruskan sasaran-sasaran sebelumnya juga mulai melaksanakan industri penghasil mesin industri. Sedangkan pada pelita kelima, mulai diprioritaskan pada industri penghasil mesin-mesin industri untuk segera menuju tinggal landas.
Dari contoh diatas, dapat kita lihat suatu iliustrasi mengenai tahap-tahap pelaksanaan pembangunan menuju industrialisasi suatu negara yang paling sederhana dengan kemampuan masyarakat negara yang bersangkutan menuju industri-industri yang lebih kompleks.

KRITERIA PENDAPATAN VALUTA ASING/DEVISA
Salah satu pertimbangan keputusan dilaksanakan suatu proyek adalah seberapa besar penghematan devisa yang diperoleh bagi produkl-produk yang diproduksi proyek jika produk tersebut adalah subtitusi impor, atau seberapa pendapatan devisa yang diperkirakan akan didapat adri ekspor produk yang akan dihasilkan proyek.
Suatu negara kadang mengalami pengurangan cadangan devisa, baik disebabkan oleh pengurangan pendapatan devisaataupun olrh meningkatnya pengeluaran devisa. Hal tersebut disebabkan misalnya kegagalan produksi pertanian sehingga pemerintah perlu membeli lebih bnayk bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri agar tercukupi.
Pertimbangan yang menyertai perlunya digunakan kriteria pendapatan devisa adalah sebagai berikut:
 Krisi cadangan devisa akan emnagncam kelangsungan jangka panjang suatu negara, maka proyek-proyek yang secara komersial tidak layakpun bisa diterima asal menghasilkan devisa yang relatif tinggi atau proyek tersebut paling tidak membantu megatasi kesuliatn devisa.
 Jika proyek-proyek yang ada selama ini dinilai dalam jangka panjang tidak mampu menhasilkan devisa yang cukup bagi negara yang bersangkutan, membanganu proyek-proyek yang memberikan pendapatan devisa atau yang menghemat devisa merupakan proyek-proyek yang harus diprioritasskan.
Kelemahan kriteria ini sebagaimana kriteria-kriteria sebelumnya adalah tidak melihat atau mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan yang berkaitan tidak hanya satu atau dua faktor, melainkan berbagai faktor yang saling memperngaruhi.
KRITERIA PROFITABILITAS KOMERSIAL
Berbeda dengan kriteria-kriteria sebelumnya yang hanya mepertimbangkan satu aspek dalam proyek maka krioteria profitabilitas komersial ayng mempertimbangkan berbagai faktor, lebih diterima secara luas sebagai alat untuk menilai proyek secara keseluruhan. Kriteria tersebut digunakan oleh investor swasta maupun pemerintah atau lembaga-lembaga keuangan, baik swasta maupun pemrintah. Perkiraan profitabilitas adalah laba bersih yang diharapakan sesudah pajak.
Penggunaan kriteria profitabilitas komersial untuk menilai proyek-proyek industri` sangat disarankan karena kriteria ini cenderung bersifat obyektif dan menggunakan sapek penting yaitu, biaya. Dengan mendapatkan informasi yang akurat mengenai permintaan atau pasa, harga, produksi dan biay, profitabilitas komersial tidak sulit dihitung dan cara perhitungannya telah dikenal melalui prosedur akuntansi.
Profitabilitas komersial ini bisa juga dipergunakan untuk membanduingkan investasi satu dengan yang lain bagi para investor swasta. Bagi pemerintah yang akan menangani proyek secara langsung dalam arti menginvestasikan dananya kedalam suatu bisnis negara, profitabilitas komersial bisa digunakan untuk perkiraan prestasi keuangan bisnis negara yang akan dilaksanakan.
Profitabilitas komersial merupakan sebuah prakiraan yang tidak lepas dari penyimpangan. Terdapat dua bagian besar di dalam profitabilitas komersial ini, yaitu estimasi biaya produksi dan estimasi penerimaan penjualan. Jika terdapat kesalahan pada salah satu bagian tersebut, akan mengakibatkan kesalahan pada poerhitungan rate of return. Sebaliknya, jika estimasi profitabilitas komersial dengan teliti dibuat dan mendasarkan pada konsep koservatif, profitabilitas komersial tersebut bisa digunakan sebagai dasar penilain prospek proyek, terutama dalam kaitannya dengan bisnis komersial. Namun, dalam kebijaksanaan perencanaan pembangunan dan/atau bagi proyek-proyek yang memerlukan bantuan pemerintah (dana atau lainnya)sebaiknya tidak menggunakan kriteria profitabilitas komersial sebagai petrimbangan satu-satunya dalam poengambilan keputusan, melainkana perlu dilengkapi pula dengan kriteria profitabilitas ekonomi nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar